Tuesday, February 9, 2016

Young-Age Relationship

1st (essay)

Hubungan Saat Usia Muda

Penyimpangan sosial adalah perilaku yang terlihat berbeda dari perilaku perilaku yang sebelumnya, fenomena ini tidak mungkin tidak terjadi, karna pada dasarnya manusia memiliki nafsu dan kehendak yang menjadikan manusia tidak dapat selalu konstan melakukan aktifitas yang sama seperti sebelum sebelumnya selamanya, oleh karna itu ada sudah sewajarnya ada perubahan perlakuan, kebiasaan, dan aktifitas yang terjadi pada suatu masa pada kehidupan manusia, penyebabnya banyak, dapat terjadi karna perubahan alam bumi sendiri, fenomena unik tertentu, atau juga karna ada manusia-manusia yang bosan melihat dunia sehingga ingin membentuk sesuatu yang baru. Proses ini biasanya disebut penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang. Jikalau penyimpangan yang dilakukan ini dianggap kurang wajar, tidak enak dilihat, dan mengganggu orang lain, kemungkinan besar penyimpangan tersebut akan disebut penyimpangan sosial negatif, karna dipandang merugikan oleh kebanyakan orang.

Budaya yang berlaku tidaklah selalu baik, ada kemungkinan perilaku atau budaya yang berlaku di masyarakat sebenarnya tidak rasional dan merugikan, sebagai contoh, mari kita kembali ke masa sebelum agama Islam diterima masyarakat banyak atau biasa kita kenal dengan zaman jahilliyah, pada masa itu manusia melakukan ritual ritual atau kegiatan yang dilakukan turun menurun yang jika kita pandang saat masa ini merupakan sesuatu yang sangat mengganggu dan tidak rasional. Membunuh bayi perempuan karna aib, memperbudak manusia, meminta disembah, mabuk mabukan, prostitusi, perang saudara, praktek sihir, dan menjadikan manusia sebagai tumbal, semua itu merupakan tindakan yang tidak dipandang benar pada masa ini, sedangkan pada masa dahulu kala, masih banyak manusia yang berpikir bahwa semua itu wajar saja, jadi ketika Nabi Muhammad datang dan menyebarkan ajaran dan paham yang berbeda dari sebelumnya-pun disebut peyimpangan sosial, dapat dikatakan sebagai penyimpangan sosial yang terjadi dikarnakan fenomena unik dan karna perubahan ini mengarah ke yang pada dasarnya lebih baik, penyimpangan sosial ini dapat disebut sebagai penyimpangan sosial positif.

Kondisi sosial masyarakat tidaklah pernah stabil dan selalu berjalan sesuai ekspetasi. Pada masa sekarang ini, manusia sudah lebih cerdas, sehingga kebanyakan budaya yang berlaku di masyarakat saat ini sudah tidak perlu dikoreksi manfaat dan kebenarannya, namun tetap saja terjadi penyimpangan sosial, hanya saja kebanyakan penyimpangan sosial yang terjadi saat ini adalah penyimpangan sosial negatif, penyimpangan berupa meninggalkan budaya baik dan terbukti manfaatnya yang seharusnya tertanam di setiap insan. Korupsi, bullying, tawuran, LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender), adalah contohnya, namun untuk saat ini kita akan bahas berpacaran di bawah umur.

Pertama kita jabarkan terlebih dahulu definisi dari pacaran. Pacaran adalah suatu status sosial yang menunjukan kedekatan antara dua orang dari keluarga yang berbeda yang terkait atas dasar cinta, kecocokan, kemiripan, dan sebagainya. Biasanya disertai dengan kegiatan-kegiatan yang berkonteks kemesraan berupa melakukan sesuatu berdua, dan biasanya dengan penuh penghayatan  seperti nonton bioskop bersama, makan malam bersama, melakukan rekreasi bersama, ataupun melakukan kontak verbal maupun tidak verbal. Tujuan dari pacaran ini tidak lain adalah untuk berkenalan satu sama lain agar bisa lebih dekat dan memperkuat hubungan antara mereka, jadi mungkin saja ada yang berkelakuan layaknya orang yang berpacaran namun menghindari istilah tersebut, namun tujuannya sama.

Sudah dianggap wajar bagi orang orang yang ber-usia sekitar 20 tahun berpacaran, untuk mengenal pasangannya sebelum mengucap janji suci dan berganti status menjadi menikah, dalam sudut pandang islam sendiri, pacaran boleh dilakukan setelah menikah, jadi untuk semua pasangan yang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan tidak melakukan pacaran, namun ta’aruf. Ta’aruf jelas bedanya dengan pacaran, ta’aruf secara bahasa artinya berkenalan, yang dilakukan pada fase ta’aruf ini adalah berkenalan agar masing masing dapat mengetahui mengenai pekerjaan, kesanggupan, kebiasaan, penyakit, budaya, dan kekurangan dan hal-hal yang sekiranya tidak bisa di toleransi dari kedua orang tersebut. Dilakukan agar kedua orang itu dapat mempertimbangkan apakah mereka benar-benar yakin dengan pasangannya. Kegiatan ini dilakukan secara terbuka, dilakukan dengan didampingi orang tua atau wali masing masing pihak, yang pada intinya tidak secara berduaan dan sengaja menjauhi keramaian, dari segi sosial pun kegiatan ta’aruf ini dipandang lebih baik karna menunjukkan keseriusan dan kesiapan berhubungan, serta jarang sekali mendapatkan hujatan dari masyarakat.

Sekarang bagaimana jika pacaran ini dilakukan oleh orang yang belum menyentuh umur 20 tahun atau bahkan anak-anak yang belum mengerti yang mana yang benar yang mana yang salah?, untuk membedakan perasaan yang dirasakannya saja belum bisa tetapi sudah memperlihatkan seolah-olah sudah siap untuk menikah, bahkan mungking yang umurnya 20 tahun lebih-pun masih ada yang sadar bahwa ia belum dewasa. Cinta adalah hal yang paling mendasar untuk menikah dan melanjukan hidup sampai akhir hayat, wajar sekali ketika seseorang ditanya alasan menikahinya dan ia menjawab karna cinta, namun banyak yang menyalahkan arti dari cinta tersebut, sebagai contoh, ketika anda ditanya kenapa anda mencintainya lalu jawaban anda karna parasnya yang indah atau karna hartanya yang melimpah maka itu hanyalah nafsu, bila jawabannya karna ia baik dan perhatian terhadap anda itu rasa terima kasih, bila jawabannya karna dia berprestasi, cerdas, atau karna dia tokoh masyarakat, itu hanyalah rasa kagum, namun bila anda masih sulit menemukan jawaban yang menyebabkan anda cinta kepada pasangan anda mungkin barulah itu yang dinamakan cinta. Apakah anak-anak dan remaja itu sudah mengerti itu? Makadari itu ketika pacaran dilakukan oleh mereka, dianggap sebagai penyimpangan sosial. Namun meski begitu, kita tidak dapat begitu saja memberikan hukuman berupa cemooh, hinaan, mengucilkan, ataupun hukuman fisik, karna kebanyakan anak-anak dan remaja ketika dilarang menggunakan hukuman mereka justru malah semakin penasaran dan terus menerus mencoba untuk melanggarnya. Yang harus kita lakukan untuk menanggapi mereka adalah menasihati dan membimbing secara halus, mungkin bisa dengan memberitahukan baik-buruknya pacaran atau memberitahukan kepada mereka ada yang lebih bermanfaat dari pacaran.

                Orang tua sudah seharusnya tau yang terbaik untuk anaknya, maka dari itu tidak sedikit orang tua yang melarang anaknya untuk berpacaran dengan alasan masih terlalu dini. Selain itu, pacaran identik dengan rasa senang yang kadang dapat menenangkan atau membuat bersemangat sehingga membuat yang berpacaran memikirkan pasangannya hampir setiap saat, maupun itu saat mau tidur, makan, beraktifitas, dan yang terburuk adalah saat belajar. Perasaan dan pikiran-pikiran itu dapat mengganggu proses transfer ilmu yang dilakukan guru-guru atau bahkan orang tua-nya sendiri. Pacaran dapat menjadi lebih berbahaya ketika pacaran tersebut terjadi karna pernyataan cinta yang sebenarnya bukanlah cinta namun nafsu, karna berdasarkan nafsu, mereka akan mencari kesempatan untuk bertemuan dan melakukan kontak fisik, mulai dari yang sederhana dan seperti tidak bermakna terlebih dahulu, seperti pegangan tangan, namun karna sudah terlalu intens mereka akan melakukan yang lebih ekstrem seperti berpelukan, lalu mereka akan mulai mencari tempat sepi dan mulai melakukan tindakan tidak senonoh yang lagi-lagi mengatasnamakan rindu dan cinta.

                Kalaupun hubungan pacaran itu berlanjut ke jenjang pernikahan, dalam pernikahan itu biasanya akan terjadi banyak cekcok dan konflik dikarnakan belumnya matang pemikiran mereka, faktanya jarang sekali ada pernikahan muda yang bertahan lama dan berakhir happily ever after. Yang perlu dikhawatirkan, pada masa sekarang ini, anak-anak yang masih bersekolah di sekolah dasar sudah banyak yang pacaran, terbukti dengan foto-foto yang diunggah di media-media sosial mereka, belum lagi ketika hubungan cinta monyet mereka berakhir karna salah satu diantaranya memutuskannya karna alasan yang kurang jelas yang tidak jarang akan membuat orang yang satunya merasakan patah hati dan tersakiti, yang mana lagi-lagi mengacaukan pikiran mereka. Aktifitas sehari-hari dan saat belajar mereka akan terganggu pula keselarasannya, bahkan dari fakta-nya tidak sedikit dari mereka yang berakhir dengan bolos sekolah, memakai narkoba dengan alasan menenangkan diri mereka, dan bunuh diri.

                Ketika kita ditanya apasih yang kira kira menyebabkan fenomena ini, mengapa mereka bisa mengerti hal seperti ini? Pada tahun 80-an, mungkin orang-orang dewasa yang berpacaran di tempat umum, terutama di depan anak-anak lah yang pertama kali disalahkan, karna dinyatakan dapat membuat anak-anak meniru perilaku mereka, namun untuk saat ini peran orang tua-lah yang pertama kita harus pertanyakan, tanpa bimbingan orang tua, fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh orang tua yang seharusnya digunakan secara bijak untuk mempermudah banyak keperluan, dapat disalah gunakan oleh anaknya, contohnya seorang anak mungkin saja menonton televisi tanpa mengetahui apa yang ia tonton, dan lagi banyak sekali acara-acaranya yang mempertontonkan adegan antara laki-laki dan perempuan berduaan yang tentunya dapat mendorong rasa penasaran anak kecil, begitu juga dengan pengawasan terhadap gawai atau gadget, terutama yang portabel, karna dapat digunakan di tempat yang sepi untuk melakukan hal yang tidak sewajarnya. Dan juga, mayoritas anak-anak memiliki sifat yang cenderung ingin membangga-banggakan yang ia punya, mereka ingin terlihat memiliki sesuatu yang lebih keren dari yang lainnya, mainan yang dimilikinya mungkin dulu yang menjadi indikator anak tersebut keren atau tidak, namun sekarang kebanyakan anak setuju bahwa seberapa populer, tampan atau cantik, dan mampu tidaknya pasangan mereka adalah hal yang keren dan patut disombongkan, bahkan terkadang seberapa lamanya hubungan tersebut dapat menjadi sesuatu hal yang dapat disombongkan pula. Hal-hal tersebut dapat menjadi dorongan untuk berpacaran bagi anak-anak tersebut, dan pada akhirnya kita dapat simpulkan bahwa hanya satu saja anak saja yang mengerti apa itu pacaran, terutama anak yang populer, dapat menyebabkan banyak anak-anak lainnya berpacaran. Bahayanya lagi, saat muda adalah saat yang paling tepat untuk menanamkan suatu paham, ketika saat masa muda-nya mereka sudah diberi paham berupa pacaran dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan ketika pacaran itu biasa saja, maka mereka akan semakin sulit untuk diajak kembali ke pola pikir mereka yang sebelumnya dan semakin sulit pula diberitahu bahwa pacaran disaat muda itu tidak baik.

Dahulu ketika orang-orang dewasa-pun berpacaran di suatu desa atau kampung, maka mereka akan dihujat orang tua satu daerah tersebut, dan akan menjadi aib bagi keluarga masing-masing pihak yang berpacaran, namun itu telah wajar sekarang. Wajarnya orang yang berusia 20 tahun lebih untuk berpacaran mungkin masih bisa di toleransi, namun ketika anak-anak yang berpacaran dianggap wajar itu merupakan sebuah penyimpangan yang dari pandangan Islam tidak dapat di toleransi. Cara pertama yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencegah penyimpangan ini menjadi lebih buruk dan mengembalikannya ke yang sesuai dengan kodratnya mungkin adalah dengan memberikan pelajaran moral tambahan di sekolah, tidak hanya memberikkan ilmu eksak. Dan bukan memberikan hukuman fisik, karna selain kurang efektif bagi sebagian besar anak-anak, itu dapat dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan terkadang tidak membuat anak jera, mengadakan seminar atau talkshow dengan topik ini untuk pihak pendidik anak juga dapat menjadi hal yang efektif untuk dilakukan, selanjutnya yang dapat pemerintah lakukan adalah meminta stasiun-stasiun televisi untuk meminimalisir tayangan-tayangan yang dapat menyebabkan seorang anak mengerti pacaran, atau bisa juga memberlakukan peraturan berupa larangan kepada pihak manapun untuk memberikan tayangan yang dapat menyebabkan anak-anak berpacaran pada jam tayang yang kiranya akan banyak anak-anak menontonnya, sedangkan yang dapat dilakukan masyarakat serta yang paling utama untuk mengatasi problematika yang sempat dibahas sebelumnya adalah dengan memaksimalkan pengawasan orang tua terhadap kegiatan yang dilakukan anaknya.

                Sebenarnya pacaran ini dapat dilakukan setelah menikah, dan faktanya lebih nyaman dan aman untuk dilakukan karna sudah halal dan tidak ada yang melarang untuk berduaan, dan kebahagiaan-kebahagiaan yang kita lakukan ketika pacaran dengan perasaan setengah bersalah-setengah bahagia seperti bertatapan lama, bermesraan dan sebagainya akan terasa lebih indah ketika sudah menikah, karna kita tidak akan merasa bersalah dikarnakan belum halalnya hubungan tersebut. Jika kita sudah terlalu sering mendapatkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil itu saat dimasa pacaran, bisa jadi ketika nanti menikah kita bosan untuk melakukannya sehingga keluarga tidak harmonis dan tidak memuaskan.

No comments:

Post a Comment