1st (essay)
Hubungan Saat Usia
Muda
Penyimpangan sosial
adalah perilaku yang terlihat berbeda dari perilaku perilaku yang sebelumnya,
fenomena ini tidak mungkin tidak terjadi, karna pada dasarnya manusia memiliki
nafsu dan kehendak yang menjadikan manusia tidak dapat selalu konstan melakukan
aktifitas yang sama seperti sebelum sebelumnya selamanya, oleh karna itu ada sudah
sewajarnya ada perubahan perlakuan, kebiasaan, dan aktifitas yang terjadi pada
suatu masa pada kehidupan manusia, penyebabnya banyak, dapat terjadi karna
perubahan alam bumi sendiri, fenomena unik tertentu, atau juga karna ada
manusia-manusia yang bosan melihat dunia sehingga ingin membentuk sesuatu yang
baru. Proses ini biasanya disebut penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang.
Jikalau penyimpangan yang dilakukan ini dianggap kurang wajar, tidak enak
dilihat, dan mengganggu orang lain, kemungkinan besar penyimpangan tersebut
akan disebut penyimpangan sosial negatif, karna dipandang merugikan oleh
kebanyakan orang.
Budaya yang berlaku
tidaklah selalu baik, ada kemungkinan perilaku atau budaya yang berlaku di
masyarakat sebenarnya tidak rasional dan merugikan, sebagai contoh, mari kita
kembali ke masa sebelum agama Islam diterima masyarakat banyak atau biasa kita
kenal dengan zaman jahilliyah, pada
masa itu manusia melakukan ritual ritual atau kegiatan yang dilakukan turun
menurun yang jika kita pandang saat masa ini merupakan sesuatu yang sangat
mengganggu dan tidak rasional. Membunuh bayi perempuan karna aib, memperbudak
manusia, meminta disembah, mabuk mabukan, prostitusi, perang saudara, praktek
sihir, dan menjadikan manusia sebagai tumbal, semua itu merupakan tindakan yang
tidak dipandang benar pada masa ini, sedangkan pada masa dahulu kala, masih
banyak manusia yang berpikir bahwa semua itu wajar saja, jadi ketika Nabi
Muhammad datang dan menyebarkan ajaran dan paham yang berbeda dari
sebelumnya-pun disebut peyimpangan sosial, dapat dikatakan sebagai penyimpangan
sosial yang terjadi dikarnakan fenomena unik dan karna perubahan ini mengarah
ke yang pada dasarnya lebih baik, penyimpangan sosial ini dapat disebut sebagai
penyimpangan sosial positif.
Kondisi sosial
masyarakat tidaklah pernah stabil dan selalu berjalan sesuai ekspetasi. Pada
masa sekarang ini, manusia sudah lebih cerdas, sehingga kebanyakan budaya yang
berlaku di masyarakat saat ini sudah tidak perlu dikoreksi manfaat dan kebenarannya,
namun tetap saja terjadi penyimpangan sosial, hanya saja kebanyakan
penyimpangan sosial yang terjadi saat ini adalah penyimpangan sosial negatif, penyimpangan
berupa meninggalkan budaya baik dan terbukti manfaatnya yang seharusnya
tertanam di setiap insan. Korupsi, bullying,
tawuran, LGBT (lesbian, gay, bisexual,
and transgender), adalah contohnya, namun untuk saat ini kita akan bahas
berpacaran di bawah umur.
Pertama kita jabarkan
terlebih dahulu definisi dari pacaran. Pacaran adalah suatu status sosial yang
menunjukan kedekatan antara dua orang dari keluarga yang berbeda yang terkait
atas dasar cinta, kecocokan, kemiripan, dan sebagainya. Biasanya disertai
dengan kegiatan-kegiatan yang berkonteks kemesraan berupa melakukan sesuatu
berdua, dan biasanya dengan penuh penghayatan seperti nonton bioskop
bersama, makan malam bersama, melakukan rekreasi bersama, ataupun melakukan kontak
verbal maupun tidak verbal. Tujuan dari pacaran ini tidak lain adalah untuk
berkenalan satu sama lain agar bisa lebih dekat dan memperkuat hubungan antara
mereka, jadi mungkin saja ada yang berkelakuan layaknya orang yang berpacaran
namun menghindari istilah tersebut, namun tujuannya sama.
Sudah dianggap wajar
bagi orang orang yang ber-usia sekitar 20 tahun berpacaran, untuk mengenal
pasangannya sebelum mengucap janji suci dan berganti status menjadi menikah,
dalam sudut pandang islam sendiri, pacaran boleh dilakukan setelah menikah,
jadi untuk semua pasangan yang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan tidak
melakukan pacaran, namun ta’aruf. Ta’aruf jelas bedanya dengan pacaran, ta’aruf secara bahasa artinya berkenalan, yang
dilakukan pada fase ta’aruf ini adalah berkenalan agar masing
masing dapat mengetahui mengenai pekerjaan, kesanggupan, kebiasaan, penyakit,
budaya, dan kekurangan dan hal-hal yang sekiranya tidak bisa di toleransi dari
kedua orang tersebut. Dilakukan agar kedua orang itu dapat mempertimbangkan
apakah mereka benar-benar yakin dengan pasangannya. Kegiatan ini dilakukan
secara terbuka, dilakukan dengan didampingi orang tua atau wali masing masing
pihak, yang pada intinya tidak secara berduaan dan sengaja menjauhi keramaian,
dari segi sosial pun kegiatan ta’aruf
ini dipandang lebih baik karna menunjukkan keseriusan dan kesiapan berhubungan,
serta jarang sekali mendapatkan hujatan dari masyarakat.
Sekarang bagaimana
jika pacaran ini dilakukan oleh orang yang belum menyentuh umur 20 tahun atau
bahkan anak-anak yang belum mengerti yang mana yang benar yang mana yang
salah?, untuk membedakan perasaan yang dirasakannya saja belum bisa tetapi
sudah memperlihatkan seolah-olah sudah siap untuk menikah, bahkan mungking yang
umurnya 20 tahun lebih-pun masih ada yang sadar bahwa ia belum dewasa. Cinta
adalah hal yang paling mendasar untuk menikah dan melanjukan hidup sampai akhir
hayat, wajar sekali ketika seseorang ditanya alasan menikahinya dan ia menjawab
karna cinta, namun banyak yang menyalahkan arti dari cinta tersebut, sebagai
contoh, ketika anda ditanya kenapa anda mencintainya lalu jawaban anda karna parasnya
yang indah atau karna hartanya yang melimpah maka itu hanyalah nafsu, bila
jawabannya karna ia baik dan perhatian terhadap anda itu rasa terima kasih,
bila jawabannya karna dia berprestasi, cerdas, atau karna dia tokoh masyarakat,
itu hanyalah rasa kagum, namun bila anda masih sulit menemukan jawaban yang
menyebabkan anda cinta kepada pasangan anda mungkin barulah itu yang dinamakan
cinta. Apakah anak-anak dan remaja itu sudah mengerti itu? Makadari itu ketika
pacaran dilakukan oleh mereka, dianggap sebagai penyimpangan sosial. Namun
meski begitu, kita tidak dapat begitu saja memberikan hukuman berupa cemooh,
hinaan, mengucilkan, ataupun hukuman fisik, karna kebanyakan anak-anak dan
remaja ketika dilarang menggunakan hukuman mereka justru malah semakin
penasaran dan terus menerus mencoba untuk melanggarnya. Yang harus kita lakukan
untuk menanggapi mereka adalah menasihati dan membimbing secara halus, mungkin bisa
dengan memberitahukan baik-buruknya pacaran atau memberitahukan kepada mereka
ada yang lebih bermanfaat dari pacaran.
Orang
tua sudah seharusnya tau yang terbaik untuk anaknya, maka dari itu tidak
sedikit orang tua yang melarang anaknya untuk berpacaran dengan alasan masih
terlalu dini. Selain itu, pacaran identik dengan rasa senang yang kadang dapat
menenangkan atau membuat bersemangat sehingga membuat yang berpacaran
memikirkan pasangannya hampir setiap saat, maupun itu saat mau tidur, makan,
beraktifitas, dan yang terburuk adalah saat belajar. Perasaan dan
pikiran-pikiran itu dapat mengganggu proses transfer ilmu yang dilakukan guru-guru
atau bahkan orang tua-nya sendiri. Pacaran dapat menjadi lebih berbahaya ketika
pacaran tersebut terjadi karna pernyataan cinta yang sebenarnya bukanlah cinta
namun nafsu, karna berdasarkan nafsu, mereka akan mencari kesempatan untuk bertemuan
dan melakukan kontak fisik, mulai dari yang sederhana dan seperti tidak
bermakna terlebih dahulu, seperti pegangan tangan, namun karna sudah terlalu
intens mereka akan melakukan yang lebih ekstrem seperti berpelukan, lalu mereka
akan mulai mencari tempat sepi dan mulai melakukan tindakan tidak senonoh yang
lagi-lagi mengatasnamakan rindu dan cinta.
Kalaupun
hubungan pacaran itu berlanjut ke jenjang pernikahan, dalam pernikahan itu
biasanya akan terjadi banyak cekcok dan konflik dikarnakan belumnya matang
pemikiran mereka, faktanya jarang sekali ada pernikahan muda yang bertahan lama
dan berakhir happily ever after. Yang
perlu dikhawatirkan, pada masa sekarang ini, anak-anak yang masih bersekolah di
sekolah dasar sudah banyak yang pacaran, terbukti dengan foto-foto yang diunggah
di media-media sosial mereka, belum lagi ketika hubungan cinta monyet mereka berakhir karna salah satu diantaranya
memutuskannya karna alasan yang kurang jelas yang tidak jarang akan membuat
orang yang satunya merasakan patah hati dan tersakiti, yang mana lagi-lagi
mengacaukan pikiran mereka. Aktifitas sehari-hari dan saat belajar mereka akan
terganggu pula keselarasannya, bahkan dari fakta-nya tidak sedikit dari mereka yang
berakhir dengan bolos sekolah, memakai narkoba dengan alasan menenangkan diri
mereka, dan bunuh diri.
Ketika
kita ditanya apasih yang kira kira
menyebabkan fenomena ini, mengapa mereka bisa mengerti hal seperti ini? Pada
tahun 80-an, mungkin orang-orang dewasa yang berpacaran di tempat umum,
terutama di depan anak-anak lah yang pertama kali disalahkan, karna dinyatakan
dapat membuat anak-anak meniru perilaku mereka, namun untuk saat ini peran
orang tua-lah yang pertama kita harus pertanyakan, tanpa bimbingan orang tua,
fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh orang tua yang seharusnya digunakan
secara bijak untuk mempermudah banyak keperluan, dapat disalah gunakan oleh anaknya,
contohnya seorang anak mungkin saja menonton televisi tanpa mengetahui apa yang
ia tonton, dan lagi banyak sekali acara-acaranya yang mempertontonkan adegan
antara laki-laki dan perempuan berduaan yang tentunya dapat mendorong rasa
penasaran anak kecil, begitu juga dengan pengawasan terhadap gawai atau gadget, terutama yang portabel, karna
dapat digunakan di tempat yang sepi untuk melakukan hal yang tidak sewajarnya.
Dan juga, mayoritas anak-anak memiliki sifat yang cenderung ingin membangga-banggakan
yang ia punya, mereka ingin terlihat memiliki sesuatu yang lebih keren dari
yang lainnya, mainan yang dimilikinya mungkin dulu yang menjadi indikator anak
tersebut keren atau tidak, namun sekarang kebanyakan anak setuju bahwa seberapa
populer, tampan atau cantik, dan mampu tidaknya pasangan mereka adalah hal yang
keren dan patut disombongkan, bahkan terkadang seberapa lamanya hubungan
tersebut dapat menjadi sesuatu hal yang dapat disombongkan pula. Hal-hal
tersebut dapat menjadi dorongan untuk berpacaran bagi anak-anak tersebut, dan
pada akhirnya kita dapat simpulkan bahwa hanya satu saja anak saja yang
mengerti apa itu pacaran, terutama anak yang populer, dapat menyebabkan banyak
anak-anak lainnya berpacaran. Bahayanya lagi, saat muda adalah saat yang paling
tepat untuk menanamkan suatu paham, ketika saat masa muda-nya mereka sudah
diberi paham berupa pacaran dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan ketika
pacaran itu biasa saja, maka mereka akan semakin sulit untuk diajak kembali ke
pola pikir mereka yang sebelumnya dan semakin sulit pula diberitahu bahwa
pacaran disaat muda itu tidak baik.
Dahulu ketika
orang-orang dewasa-pun berpacaran di suatu desa atau kampung, maka mereka akan
dihujat orang tua satu daerah tersebut, dan akan menjadi aib bagi keluarga
masing-masing pihak yang berpacaran, namun itu telah wajar sekarang. Wajarnya
orang yang berusia 20 tahun lebih untuk berpacaran mungkin masih bisa di
toleransi, namun ketika anak-anak yang berpacaran dianggap wajar itu merupakan
sebuah penyimpangan yang dari pandangan Islam tidak dapat di toleransi. Cara
pertama yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencegah penyimpangan ini menjadi
lebih buruk dan mengembalikannya ke yang sesuai dengan kodratnya mungkin adalah
dengan memberikan pelajaran moral tambahan di sekolah, tidak hanya memberikkan
ilmu eksak. Dan bukan memberikan hukuman fisik, karna selain kurang efektif
bagi sebagian besar anak-anak, itu dapat dianggap sebagai pelanggaran hak asasi
manusia dan terkadang tidak membuat anak jera, mengadakan seminar atau talkshow dengan topik ini untuk pihak
pendidik anak juga dapat menjadi hal yang efektif untuk dilakukan, selanjutnya
yang dapat pemerintah lakukan adalah meminta stasiun-stasiun televisi untuk meminimalisir
tayangan-tayangan yang dapat menyebabkan seorang anak mengerti pacaran, atau
bisa juga memberlakukan peraturan berupa larangan kepada pihak manapun untuk
memberikan tayangan yang dapat menyebabkan anak-anak berpacaran pada jam tayang
yang kiranya akan banyak anak-anak menontonnya, sedangkan yang dapat dilakukan
masyarakat serta yang paling utama untuk mengatasi problematika yang sempat
dibahas sebelumnya adalah dengan memaksimalkan pengawasan orang tua terhadap
kegiatan yang dilakukan anaknya.
No comments:
Post a Comment