Budaya
Budaya adalah sesuatu hal yang terbentuk dari sifat-sifat
manusia. Secara umum, budaya terbentuk dari rasa penasaran dan cara
mempertahankan hidup manusia.
Penasaran menjadi salah satu asal-usul suatu budaya ketika
manusia menyadari bahwa ada kekuatan atau sumber-sumber yang lebih kuat dari
manusia itu sendiri, oleh karna itu manusia mencari tau apa kekuatan itu, dan
dari sinilah terbentuk suatu kepercayaan tentang adanya sesuatu yang mengatur
dan menciptakan dunia ini, beberapa dari mereka pada akhirnya berimajinasi
tentang bentuk atau wujud dari yang maha mengatur dan maha menciptakan, lalu
mengekspos imajinasinya, beberapa imajinasi tersebut sangatlah meyakinkan dan
cocok di kalangan banyak sehingga menjadikan orang-orang disekitarnya percaya
dan mengikuti pencetusnya dan terbentuklah suatu persatuan yang disebut agama,
kira-kira kejadian seperti inilah yang menyebabkan terbentuknya suatu budaya
yang berhubungan dengan agama.
Rasa penasaran ini juga membentuk suatu pola pikir pada
manusia, dengan memanfaatkan keadaan sekitarnya, manusia terkadang menyalurkan
pola pikir tersebut dalam sesuatu yang abstrak dan dari segi fungsi-pun
terkadang kurang berguna, misalnya karna penasaran kenapa seseorang tidak dapat
bergerak dengan kehendaknya lagi dan membusuk atau kita sebut meninggal,
manusia membentuk suatu batu atau kayu yang menyerupai seseorang tersebut, yang
dapat disambungkan dengan kepercayaan bahwa orang tersebut tetap ada. Terkadang
hal abstrak tersebut begitu indah dan memukau sehingga merambat ke hal yang
lain, batu atau kayu tersebut dibentuk hal yang lain seperti hewan, tumbuhan,
dan lainnya. hal indah tersebut disebut dengan seni, tentunya pola-pola yang
terbentuk itu berbeda dari setiap individunya, sehingga membentuk suatu yang
khas dan disebut sebagai budaya.
Hal lain yang menjadi sumber terbentuknya suatu budaya
adalah aktifitas mempertahankan hidup, cukup banyak budaya yang terbentuk dari
aktifitas ini. Salah satu ciri makhluk hidup adalah memerlukan nutrisi, bagi
manusia nutrisi ini didapat dari makanan.
Dalam memenuhinya, manusia akan berusaha dengan cara berburu
dan bertani, menjelajah hutan, sungai, dan pesisir pantai lalu membunuh hewan
yang mereka temukan untuk diolah dan dijadikan makanan ataupun berkegiatan
menetap dan mengurus lahan pertanian mereka yang kemudian dipanen, diolah, dan
dimakan. Dari makan, manusia merasakan kepuasan tertentu, dari hal tersebut
tidak jarang yang merasakan harus berterima kasih atas kepuasan tersebut, dan
tidak jarang pula yang mendapatkan ide untuk merayakan kepuasan yang pada
akhirnya menjadi tradisi, dari titik ini pula bermunculan ide-ide untuk
merayakan awal perburuan, akhir perburuan, awal musim panen dan akhir musim
panen. Bila kita perhatikan, rasa terima kasih ini pastinya ditujukan untuk sesuatu
yang ghaib, ini menunjukkan bahwa suatu tradisi dapat berisikan lebih dari satu
unsur budaya.
Selain pangan, manusia juga butuh pakaian dalam
mempertahankan kelangsungan hidup, kondisi geografis dan lingkungan di bumi ini
tentu berbeda-beda, pakaian atau penutup tubuh yang dibutuhkan tentunya berbeda
pula, seperti di daerah sub-tropis yang dingin, dibutuhkan penutup tubuh yang
tebal dan menyeluruh agar tetap menajaga kehangatan tubuh, namun di daerah
tropis tentunya tidak dibutuhkan penutuh tubuh tebal karna sudah hangat, bahkan
mungkin bagi yang tinggal di tropis mereka harus mengurangi penutup tubuh yang
mereka gunakan dikarnakan terlalu panas, perbedaan-perbedaan ini menyebabkan
pakaian dikatakan sebagai suatu budaya.
Bangunan juga diperlukan untuk mempertahankan kehidupan,
untuk menghindari cuaca ekstrem, binatang buas, ataupun sekedar memiliki
privasi. Sama seperti pakaian, bangunan yang dibangung terbentuk berdasarkan
kondisi geografis dan lingkungannya.
Dalam mempertahankan kehidupan, manusia tidak selalu bisa
menjalani kehidupan seorang diri dan butuh setidaknya satu orang untuk
melancarkan kehidupannya. Dalam berinteraksi dengan seseorang, tentunya
dibutuhkan kepahaman agar saling mengerti satu sama lain, dari sini terbentuk
sesuatu hal yang disebut bahasa, suatu perilaku yang memiliki suatu arti yang
disepakati, bisa dalam bentuk ucapan atau misalnya ketika orang berkata “Hai”
hal itu disepakati sebagai kata sapaan, untuk mengawali percakapan, bisa juga
dalam bentuk gerakan, seperti ketika seseorang melambai itu disepakati sebagai
sapaan. Karna manusia tersebar di seluruh bumi ini, maka
kesepakatan-kesepakatan yang terbentuk berbeda-beda, perbedaan bahasa juga
dapat disebabkan oleh perbedaan geografis dan lingkungan, mereka yang berada di
daerah pesisir pantai akan berbicara dengan lantang, keras, dan menggunakan
pilihan kata-kata yang bisa di ucapkan dengan lantang, hal ini semata-mata
dikarnakan angin laut yang ribut menyebabkan suara teredam bila terlalu pelan,
dikarnakan perbedaan ini, bahasa disebut sebagai budaya. Perbedaan kesepakatan
ini terkadang dapat menyebabkan salah penafsiran, tidak jarang suatu kata
memiliki makna yang berbeda. Dalam komunikasi, bahasa bahkan memiliki emosi-nya
tersendiri, dapat menyebabkan ketenangan, keresahan, bahkan cinta
Selain komunikasi, bahasa juga menjadi dasar terbentuknya
hal lain, seperti tulisan, coretan garis-garis yang disepakati untuk
menyimbolkan kata-kata yang akhirnya tulisan ini digunakan untuk banyak hal, seperti mengingat sesuatu
dan berkomunikasi jarak jauh
Bahasa juga digunakan untuk hal lain, seperti karya seni.
Contohnya mengalunkan atau merubah nada dan irama ketika mengucakpan suatu
kata-kata atau kita sebut menyanyi,
mengucapkan suatu kata-kata dengan cara menghayati dan penuh perasaan atau
kita sebut berpuisi, memberikan ilmu yang kita ketahui untuk orang lain, dan
menjadi hiburan dengan cara mengkombinasikan kata-kata nya. Suatu tulisan dapat
dikreasikan bentuk-bentuk tiap hurufnya, dengan perpaduan warna, detail, dan
lekukannya tidak jarang hasil kreasi yang merubah bentuk simbol-simbol huruf
tersebut begitu indah, contohnya adalah graffiti dan kaligrafi yang pada
akhirnya disebut sebagai suatu karya seni.
Kepemimpinan dan perintah juga dibutuhkan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup. Pada zaman yang masih primitif, banyak yang menerapkan
sistem bahwa ketika kita menjadi pemimpin, kita akan mendapatkan kekuasaan
seluas-luasnya, yang menyebabkan banyak yang memperebutkan posisi berkuasa
tersebut, karna saat itu banyak yang berpendapat bahwa yang kuat yang berhak
memimpin, mereka saling bersaing dan menunjukkan kekuatan yang tidak jarang
menyebabkan kematian, itupun bisa dikatakan budaya, budaya untuk memilih
pemimpin dari yang terkuat. Seiring berkembangnya zaman dan pergantian pemimpin,
adakalanya terbentuk suatu koneksi yang baik antara pemimpin yang dipimpin,
mereka yang berada dibawah pemimpin ini merasa nyaman sehingga ingin dipimpin
oleh orang tersebut, namun karna manusia adalah makhluk hidup, yang mana
artinya akan meninggal, mereka mengharapkkan kepemempinan tersebut dilanjutkan
oleh keeturunannya karna dianggap keturunannya tersebut memiliki jiwa
kepemimpinan yang sama dengan orang tuanya, seiring jalannya garis keturunan,
keturunan dari pemimpin tersebut akan dipercaya mengemban tugas, kejadian
tersebut juga membentuk suatu budaya, budaya yang mempercayakan keturunan
tertentu atau dengan istilah yang sering kita gunakan, "darah biru"
untuk memimpin mereka.
Dalam mengerjakan kewajibannya ketika memimpin, para
pemimpin sadar bahwa mereka tidak bisa selalu mengerjakan kepemimpinan sendiri,
mereka butuh pendamping untuk memimpin, bila dilihat dari tugasnya, akan
terlalu banyak dan sering terhambat penyelesaiannya, oleh karna itu
pemimpin-pemimpin ini mengembankan tugasnya kepada orang-orang yang ia percaya
dapat melaksanakannya dengan baik. Dari situlah terbentuk sistem politik, suatu
sistem yang mengatur posisi seseorang dalam kehidupan sosial guna penyeleksian
sumber ide dan hasil rundingan menuju keputusan akhir secara terstruktur, hal
tersebut diperlukan selain untuk pembagian tugas, adalah untuk membuka
kesempatan untuk memimpin bagi yang lainnya, meskipun bukan memimpin ditingkat
teratas, adanya banyak pihak yang mengatur dibagian tertinggi akan menyebabkan
sulitnya mencapai tujuan akhir, dalam suatu sistem politik, biasanya dipilihlah
beberapa orang yang dianggap paling bijak dan berpengalaman untuk mewakilkan
aspirasi masyarakat serta memutuskan kebijakan dengan penuh pertimbangan. Tentu
saja sistem politik ini berbeda-beda di masing-masing tempat dan disebut
sebagai budaya.
Gabungan dari unsur-unsur budaya yang telah dibahas
sebelumnya dapat terbentuk dalam suatu individu atau komunitas, yang tentunya dapat
membentuk suatu kombinasi yang berbeda-beda sehingga menciptakan ciri khas
tersendiri, komunitas tersebut biasanya akan menjunjung tinggi dan membanggakan
ciri khas tersebut, lalu agar mempermudah, mereka menamai nama komunitas
tersebut, kiranya seperti itulah bagaimana proses terbentuknya suatu suku. Banyaknya
ragam dan perbedaan budaya ini tidak menutup kemungkinan untuk sebuah suku
memiliki kesamaan, entah bahasa, pakaian, bangunan, seni, kepercayaan dan
lainnya pasti ada yang beririsan atau mirip, misalnya suku di afrika dengan
suku yang ada di papua memiliki kesamaan pakaian, penyebabnya-pun banyak, entah
itu karna penjelajahan, interaksi, atau hanya kebetulan belaka.
Pertikaian antar suku seringkali terjadi karna perbedaan
budaya, yang sebenarnya terjadi karna salah penafsiran lalu segera bertindak
tanpa berpikir terlebih dahulu, misal, orang yang berasal dari suku yang tumbuh
di pedalaman hutan bertemu dengan orang yang asalnya pesisir pantai, lalu
mereka yang dari pedalaman hutan ini menganggap orang pesisir pantai kurang
ajar karna ketika berbicara, orang pesisir pantai ini berbicara dengan lantang
yang ditafsirkan sebagai suatu tantangan atau meremehkan.
Pada masa sekarang ini banyak sekali hal-hal yang sudah
berubah, perang untuk memperebutkan kekuasaan secara tidak langsung memaksa
mereka yang kalah untuk mengikuti ideologi mereka yang menang dalam perang
tersebut sehingga terkadang memusnahkan suatu budaya, dakwah atau misi
menyebarkan agama terkadang juga diterima sehingga merubah suatu budaya lama.
Selain itu, berkembangnya ilmu pengetahuan memberikan pelajaran tentang
pentingkah suatu budaya untuk dipertahankan eksistensinya, apakah budaya
tersebut berbahaya dan merugikan atau justru menguntungkan adalah beberapa dari
banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Globalisasi juga merubah kebanyakan
budaya yang ada. Asimilasi, akulturasi, toleransi, dan banyak hal lain
mendukung perubahan dan kedinamisan budaya.
Dalam mempertahankan budaya, ada baiknya kita menelaah dan
mencerna budaya tersebut terlebih dahulu. Dengan cara menghubungkan budaya
tersebut dengan ilmu pengetahuan, sisi kemanusiaan, dan kepentingan masyarakat,
kita dapat melihat gelap-terang budaya tersebut sehingga kita bisa
tindaklanjuti dengan opsi pertahankan, musnahkan, atau pertahankan dengan suatu
perubahan.
No comments:
Post a Comment