Friday, April 8, 2016

Culture

Budaya

Budaya
Budaya adalah sesuatu hal yang terbentuk dari sifat-sifat manusia. Secara umum, budaya terbentuk dari rasa penasaran dan cara mempertahankan hidup manusia.

Penasaran menjadi salah satu asal-usul suatu budaya ketika manusia menyadari bahwa ada kekuatan atau sumber-sumber yang lebih kuat dari manusia itu sendiri, oleh karna itu manusia mencari tau apa kekuatan itu, dan dari sinilah terbentuk suatu kepercayaan tentang adanya sesuatu yang mengatur dan menciptakan dunia ini, beberapa dari mereka pada akhirnya berimajinasi tentang bentuk atau wujud dari yang maha mengatur dan maha menciptakan, lalu mengekspos imajinasinya, beberapa imajinasi tersebut sangatlah meyakinkan dan cocok di kalangan banyak sehingga menjadikan orang-orang disekitarnya percaya dan mengikuti pencetusnya dan terbentuklah suatu persatuan yang disebut agama, kira-kira kejadian seperti inilah yang menyebabkan terbentuknya suatu budaya yang berhubungan dengan agama.

Rasa penasaran ini juga membentuk suatu pola pikir pada manusia, dengan memanfaatkan keadaan sekitarnya, manusia terkadang menyalurkan pola pikir tersebut dalam sesuatu yang abstrak dan dari segi fungsi-pun terkadang kurang berguna, misalnya karna penasaran kenapa seseorang tidak dapat bergerak dengan kehendaknya lagi dan membusuk atau kita sebut meninggal, manusia membentuk suatu batu atau kayu yang menyerupai seseorang tersebut, yang dapat disambungkan dengan kepercayaan bahwa orang tersebut tetap ada. Terkadang hal abstrak tersebut begitu indah dan memukau sehingga merambat ke hal yang lain, batu atau kayu tersebut dibentuk hal yang lain seperti hewan, tumbuhan, dan lainnya. hal indah tersebut disebut dengan seni, tentunya pola-pola yang terbentuk itu berbeda dari setiap individunya, sehingga membentuk suatu yang khas dan disebut sebagai budaya.

Hal lain yang menjadi sumber terbentuknya suatu budaya adalah aktifitas mempertahankan hidup, cukup banyak budaya yang terbentuk dari aktifitas ini. Salah satu ciri makhluk hidup adalah memerlukan nutrisi, bagi manusia nutrisi ini didapat dari makanan.

Dalam memenuhinya, manusia akan berusaha dengan cara berburu dan bertani, menjelajah hutan, sungai, dan pesisir pantai lalu membunuh hewan yang mereka temukan untuk diolah dan dijadikan makanan ataupun berkegiatan menetap dan mengurus lahan pertanian mereka yang kemudian dipanen, diolah, dan dimakan. Dari makan, manusia merasakan kepuasan tertentu, dari hal tersebut tidak jarang yang merasakan harus berterima kasih atas kepuasan tersebut, dan tidak jarang pula yang mendapatkan ide untuk merayakan kepuasan yang pada akhirnya menjadi tradisi, dari titik ini pula bermunculan ide-ide untuk merayakan awal perburuan, akhir perburuan, awal musim panen dan akhir musim panen. Bila kita perhatikan, rasa terima kasih ini pastinya ditujukan untuk sesuatu yang ghaib, ini menunjukkan bahwa suatu tradisi dapat berisikan lebih dari satu unsur budaya.

Selain pangan, manusia juga butuh pakaian dalam mempertahankan kelangsungan hidup, kondisi geografis dan lingkungan di bumi ini tentu berbeda-beda, pakaian atau penutup tubuh yang dibutuhkan tentunya berbeda pula, seperti di daerah sub-tropis yang dingin, dibutuhkan penutup tubuh yang tebal dan menyeluruh agar tetap menajaga kehangatan tubuh, namun di daerah tropis tentunya tidak dibutuhkan penutuh tubuh tebal karna sudah hangat, bahkan mungkin bagi yang tinggal di tropis mereka harus mengurangi penutup tubuh yang mereka gunakan dikarnakan terlalu panas, perbedaan-perbedaan ini menyebabkan pakaian dikatakan sebagai suatu budaya.

Bangunan juga diperlukan untuk mempertahankan kehidupan, untuk menghindari cuaca ekstrem, binatang buas, ataupun sekedar memiliki privasi. Sama seperti pakaian, bangunan yang dibangung terbentuk berdasarkan kondisi geografis dan lingkungannya.

Dalam mempertahankan kehidupan, manusia tidak selalu bisa menjalani kehidupan seorang diri dan butuh setidaknya satu orang untuk melancarkan kehidupannya. Dalam berinteraksi dengan seseorang, tentunya dibutuhkan kepahaman agar saling mengerti satu sama lain, dari sini terbentuk sesuatu hal yang disebut bahasa, suatu perilaku yang memiliki suatu arti yang disepakati, bisa dalam bentuk ucapan atau misalnya ketika orang berkata “Hai” hal itu disepakati sebagai kata sapaan, untuk mengawali percakapan, bisa juga dalam bentuk gerakan, seperti ketika seseorang melambai itu disepakati sebagai sapaan. Karna manusia tersebar di seluruh bumi ini, maka kesepakatan-kesepakatan yang terbentuk berbeda-beda, perbedaan bahasa juga dapat disebabkan oleh perbedaan geografis dan lingkungan, mereka yang berada di daerah pesisir pantai akan berbicara dengan lantang, keras, dan menggunakan pilihan kata-kata yang bisa di ucapkan dengan lantang, hal ini semata-mata dikarnakan angin laut yang ribut menyebabkan suara teredam bila terlalu pelan, dikarnakan perbedaan ini, bahasa disebut sebagai budaya. Perbedaan kesepakatan ini terkadang dapat menyebabkan salah penafsiran, tidak jarang suatu kata memiliki makna yang berbeda. Dalam komunikasi, bahasa bahkan memiliki emosi-nya tersendiri, dapat menyebabkan ketenangan, keresahan, bahkan cinta

Selain komunikasi, bahasa juga menjadi dasar terbentuknya hal lain, seperti tulisan, coretan garis-garis yang disepakati untuk menyimbolkan kata-kata yang akhirnya tulisan ini digunakan  untuk banyak hal, seperti mengingat sesuatu dan berkomunikasi jarak jauh

Bahasa juga digunakan untuk hal lain, seperti karya seni. Contohnya mengalunkan atau merubah nada dan irama ketika mengucakpan suatu kata-kata atau kita sebut menyanyi,  mengucapkan suatu kata-kata dengan cara menghayati dan penuh perasaan atau kita sebut berpuisi, memberikan ilmu yang kita ketahui untuk orang lain, dan menjadi hiburan dengan cara mengkombinasikan kata-kata nya. Suatu tulisan dapat dikreasikan bentuk-bentuk tiap hurufnya, dengan perpaduan warna, detail, dan lekukannya tidak jarang hasil kreasi yang merubah bentuk simbol-simbol huruf tersebut begitu indah, contohnya adalah graffiti dan kaligrafi yang pada akhirnya disebut sebagai suatu karya seni.

Kepemimpinan dan perintah juga dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Pada zaman yang masih primitif, banyak yang menerapkan sistem bahwa ketika kita menjadi pemimpin, kita akan mendapatkan kekuasaan seluas-luasnya, yang menyebabkan banyak yang memperebutkan posisi berkuasa tersebut, karna saat itu banyak yang berpendapat bahwa yang kuat yang berhak memimpin, mereka saling bersaing dan menunjukkan kekuatan yang tidak jarang menyebabkan kematian, itupun bisa dikatakan budaya, budaya untuk memilih pemimpin dari yang terkuat. Seiring berkembangnya zaman dan pergantian pemimpin, adakalanya terbentuk suatu koneksi yang baik antara pemimpin yang dipimpin, mereka yang berada dibawah pemimpin ini merasa nyaman sehingga ingin dipimpin oleh orang tersebut, namun karna manusia adalah makhluk hidup, yang mana artinya akan meninggal, mereka mengharapkkan kepemempinan tersebut dilanjutkan oleh keeturunannya karna dianggap keturunannya tersebut memiliki jiwa kepemimpinan yang sama dengan orang tuanya, seiring jalannya garis keturunan, keturunan dari pemimpin tersebut akan dipercaya mengemban tugas, kejadian tersebut juga membentuk suatu budaya, budaya yang mempercayakan keturunan tertentu atau dengan istilah yang sering kita gunakan, "darah biru"  untuk memimpin mereka.

Dalam mengerjakan kewajibannya ketika memimpin, para pemimpin sadar bahwa mereka tidak bisa selalu mengerjakan kepemimpinan sendiri, mereka butuh pendamping untuk memimpin, bila dilihat dari tugasnya, akan terlalu banyak dan sering terhambat penyelesaiannya, oleh karna itu pemimpin-pemimpin ini mengembankan tugasnya kepada orang-orang yang ia percaya dapat melaksanakannya dengan baik. Dari situlah terbentuk sistem politik, suatu sistem yang mengatur posisi seseorang dalam kehidupan sosial guna penyeleksian sumber ide dan hasil rundingan menuju keputusan akhir secara terstruktur, hal tersebut diperlukan selain untuk pembagian tugas, adalah untuk membuka kesempatan untuk memimpin bagi yang lainnya, meskipun bukan memimpin ditingkat teratas, adanya banyak pihak yang mengatur dibagian tertinggi akan menyebabkan sulitnya mencapai tujuan akhir, dalam suatu sistem politik, biasanya dipilihlah beberapa orang yang dianggap paling bijak dan berpengalaman untuk mewakilkan aspirasi masyarakat serta memutuskan kebijakan dengan penuh pertimbangan. Tentu saja sistem politik ini berbeda-beda di masing-masing tempat dan disebut sebagai budaya.

Gabungan dari unsur-unsur budaya yang telah dibahas sebelumnya dapat terbentuk dalam suatu individu atau komunitas, yang tentunya dapat membentuk suatu kombinasi yang berbeda-beda sehingga menciptakan ciri khas tersendiri, komunitas tersebut biasanya akan menjunjung tinggi dan membanggakan ciri khas tersebut, lalu agar mempermudah, mereka menamai nama komunitas tersebut, kiranya seperti itulah bagaimana proses terbentuknya suatu suku. Banyaknya ragam dan perbedaan budaya ini tidak menutup kemungkinan untuk sebuah suku memiliki kesamaan, entah bahasa, pakaian, bangunan, seni, kepercayaan dan lainnya pasti ada yang beririsan atau mirip, misalnya suku di afrika dengan suku yang ada di papua memiliki kesamaan pakaian, penyebabnya-pun banyak, entah itu karna penjelajahan, interaksi, atau hanya kebetulan belaka.
Pertikaian antar suku seringkali terjadi karna perbedaan budaya, yang sebenarnya terjadi karna salah penafsiran lalu segera bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, misal, orang yang berasal dari suku yang tumbuh di pedalaman hutan bertemu dengan orang yang asalnya pesisir pantai, lalu mereka yang dari pedalaman hutan ini menganggap orang pesisir pantai kurang ajar karna ketika berbicara, orang pesisir pantai ini berbicara dengan lantang yang ditafsirkan sebagai suatu tantangan atau meremehkan.

Pada masa sekarang ini banyak sekali hal-hal yang sudah berubah, perang untuk memperebutkan kekuasaan secara tidak langsung memaksa mereka yang kalah untuk mengikuti ideologi mereka yang menang dalam perang tersebut sehingga terkadang memusnahkan suatu budaya, dakwah atau misi menyebarkan agama terkadang juga diterima sehingga merubah suatu budaya lama. Selain itu, berkembangnya ilmu pengetahuan memberikan pelajaran tentang pentingkah suatu budaya untuk dipertahankan eksistensinya, apakah budaya tersebut berbahaya dan merugikan atau justru menguntungkan adalah beberapa dari banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Globalisasi juga merubah kebanyakan budaya yang ada. Asimilasi, akulturasi, toleransi, dan banyak hal lain mendukung perubahan dan kedinamisan budaya.


Dalam mempertahankan budaya, ada baiknya kita menelaah dan mencerna budaya tersebut terlebih dahulu. Dengan cara menghubungkan budaya tersebut dengan ilmu pengetahuan, sisi kemanusiaan, dan kepentingan masyarakat, kita dapat melihat gelap-terang budaya tersebut sehingga kita bisa tindaklanjuti dengan opsi pertahankan, musnahkan, atau pertahankan dengan suatu perubahan.

No comments:

Post a Comment